Yudi Hartono
Latest Update
Fetching data...

Kamis, 03 Januari 2019

Ketika Saya Belum Mempunyai Rumah, Ini Rasanya

Gubuk di kebun kopi

Hallo.. sobat.

Kali ini saya akan berbagi pengalaman mengenai kesalahan yang saya lakukan, yaitu "Belum Punya Rumah". Jika sobat masih berusia muda, saya harap pengalaman jelek yang terjadi pada saya bisa menjadi pelajaran, sehingga sobat tidak melakukan seperti yang saya lakukan. Jika sobat berusia sama dengan saya atau bahkan lebih tua dan belum memiliki rumah, saya harap sobat lebih giat lagi untuk memiliki rumah sendiri. Saat ini usia saya 30 tahun.

Di usia yang seharusnya sudah memiliki rumah sendiri (menurut saya), kenyataannya saya masih numpang tempat mertua. Memang tidak salah tinggal bersama mertua, tetapi ini bukan masalah salah atau tidak salah. Yang menjadi masalah adalah, tinggal di rumah sendiri lebih nyaman dan lebih baik dari pada tinggal di bukan rumah sendiri (rumah orang tua, mertua, saudara, sahabat, dll)

Selain kenyataan bahwa saya sudah berusia 30 tahun, saya juga sudah menikah dan mempunyai seorang putri saat ini berusia 5 bulan. Lebih banyak biaya yang harus dibagi jika seperti ini, bukan hanya ngurusin rumah saja. Dengan kondisi seperti ini, saya harus memiliki pendapatan yang banyak, tapi nyatanya pendapatan saya mungkin hanya cukup untuk makan saja.

Semakin berat perjuangan untuk memiliki rumah sendiri, tetapi saya tidak pernah putus saya, dalam diri saya memiliki keyakinan yang kuat bahwa saya akan memiliki rumah sendiri.

Belum Punya Rumah Apa yang Saya Rasakan


Jika sobat masih muda, tidak punya rumah sendiri bukan masalah. Sobat masih bisa tinggal bersama orangtua. Namun bagaimana jika belum memiliki rumah di usia dan kondisi seperti saya. Inilah yang saya rasakan.

Sedih, dan Merasa Terkukung

Saya merasa sedih, sebenarnya rasa sedih ini karena saya sudah mempunyai keluarga. Bagaimana rasanya punya istri dan anak tetapi belum punya tempat tinggal. Jika saya sendiri mah, tidak terlalu dipermasalahkan. Toh sejak tahun 2000 sampai sekarang saya sudah tidak tinggal di rumah orangtua, saya tinggal di rumah saudara.

Saai ini saya memikirkan kebutuhan papan (rumah) anak dan istri saya, dimana kebutuhan itu adalah kebutuhan pokok selain sandang dan pangan.

Tidak mempunyai rumah sendiri membuatku juga merasa terkukung, dengan tidak memiliki rumah sendiri, saya tidak bisa melakukan semua apa yang ingin aku lakukan. Beda jika mempunyai rumah sendiri, bebas melakukan apa saja. Jika tinggal bukan di rumah sendiri tentu saja harus mengikuti aturan-aturan pemilik rumah.

Menyesal, Tidak Mengambil Kesempatan

Ketika saya belum menikah, saya memiliki peluang yang besar untuk memiliki rumah sendiri, tetapi saya tidak mengambil kesempatan itu. Saya pada waktu itu hanya mempunyai keinginan untuk memiliki rumah, namun saya tidak mengambil tindakan nyata untuk mewujudkannya.

Penyesalan memang datang belakangan, andai saja aku dulu memang tidak memiliki kemampuan untuk membeli rumah sendiri, penyesalanku mungkin tidak sedalam ini. Saat ini semuanya sudah terjadi dan beginilah kenyatannya.

Aku Tetap Bersyukur

Walaupun aku sedih, terkukung dan merasa menyesal, tetapi aku tetap bersyukur. Aku tidak larut dalam kesedihan dan penyesalan, tetapi aku mengisinya setiap hari tinggal di bukan rumah sendiri dengan rasa syukur. Bersyukur bahwa aku masih bisa menikmati nyamannya tidur di rumah, canda tawa di rumah, karena ada saudara-saudara kita yang tidak memiliki rumah dan juga tidak ada rumah yang bisa mereka tempati. Mereka terpaksa tidur dijalanan, di bawah jembatan, di teras toko.

Semua rasa sedih dan penyesalan aku gunakan sebagai introspeksi diri, bahwa ada yang harus diperbaiki, ada yang harus dicapai, ada yang harus dilakukan.

Apa yang Harus Sobat Lakukan


Bagi yang sudah memiliki rumah, bersyukurlah. Walaupun rumah itu sederhana, lebih baik daripada tidak memiliki rumah, atau tinggal dirumah mewah tetapi numpang. Bersyukurlah karena banyak orang di luar sana yang tidak memiliki rumah, mereka tidak tau mau tinggal dimana?

Jika sobat masih muda dan belum menikah, jika sudah bekerja. Milikilah keinginan untuk memiliki rumah sendiri. Setelah memiliki keinginan, mulailah sisihkan pendapatan sobat untuk membeli rumah. Singkirkan dulu hal-hal yang gak penting, seperti smartphone model terbaru, atau sepeda motor keren. Intinya selama masih berfungsi dan mendukung pekerjaan tidak usah membeli yang baru.

Saya ketika usia 25 tahun, pada waktu itu saya sudah bekerja, dengan pendapatan yang cukup, tidak banyak juga tidak sedikit, dikisaran UMR. Jika mencicil rumah sudah bisa, hanya berusaha mencari uang tambahan untuk DP nya. Walaupun saya mampu untuk mencicil rumah, dan saya juga memiliki keinginan untuk mempunyai rumah. Nyatanya saya tidak pernah mengambil tindakan nyata untuk mencicil rumah.

Pada saat itu yang saya miliki hanya keinginan, saya tidak mengambil tindakan nyata. Padahal banyak sekali jalan untuk memiliki rumah. Lakukan dulu semampu yang sobat bisa lakukan. Jika hanya mampu nabung 100 ribu rupiah tiap bulan, lakukan saja. Jika sobat hanya mampu beli tanah atau kredit tanah kapling, lakukan saja. Itu semua lebih baik dari pada tidak melakukan apa-apa seperti saya.

Alangkah lebih baiknya lagi jika sobat sudah menghitung kemampuan dan harga rumah yang ingin sobat miliki. Sehingga sobat dapat memiliki rumah idaman namun tetap ramah kantong. Mungkin sobat bisa mencari informasi mengenai rumah murah.

Jika sobat masih muda dan sudah bekerja, pikirkanlah juga dimana kita nanti akan tinggal. Sisihkanlah sebagaian pendapatan untuk dialokasikan mempunyai rumah. Jika sobat masih muda dan mampu untuk mempunyai rumah sendiri, lakukanlah. Jika ternyata kemampuan ekonomi belum mencukupi untuk membeli rumah, jangan berkecil hati, tetap berusaha, jangan menyerah. Karena semakin tua, usaha untuk memiliki rumah sendiri semakin berat.

Semoga sobat dapat mengambil pelajaran dari pengalaman buruk saya ini.
Read More

Senin, 31 Desember 2018

Memberi Adalah Menerima Lebih Banyak

Memberi Adalah Menerima Lebih Banyak

Orang Kaya Suka Memberi


Saya gak tau apakah orang-orang kaya memiliki cara berpikir "Memeberi adalah menerima lebih banyak". Tetapi yang sering saya temui, orang yang kaya memang suka memberi, jadi wajar saja kalau dia mendapatkan lebih banyak lagi dari apa yang diberikan.

Mungkin kita akan melihat beberapa orang kaya yang sangat pelit, dan banyak orang yang bercerita bahwa orang itu kaya karena pelit. Saya tidak setuju dengan pendapat itu, saya yakin bahwa orang-orang kaya di dunia ini adalah orang yang suka memberi. Yang jadi masalah adalah tidak semua orang mengetahui yang telah diberikan orang kaya.

Bisa jadi ketika mereka memberi tidak ada orang yang tahu, jadi banyak orang yang tak mengetahuinya. Bisa saya orang kaya pelit kepada orang tertentu tetapi mereka sangat dermawan kepada yang lainnya. Tetapi fakta yang ada menunjukkan bahwa orang-orang kaya memang suka memberi.

Berikut ini adalah daftar sumbangan orang terkaya di dunia dikutip dari merdeka.com
  • Bill Gates → USD 27 miliar / 378 triliun rupiah
  • Warren Buffet → USD 21.4 miliar / 299 triliun rupiah
  • Azim Premji → USD 8 miliar / 112 triliun rupiah
  • Charles Franceis Feeney → USD 6,3 miliar / 88.2 triliun rupiah

Bagaimana sobat? Apakah semakin kaya semakin banyak memberi? Apakah konsep ini bisa dibalik "Semakin banyak memberi semakin kaya." Mungkin perlu ada riset, untuk membuktikan hipotesa ini. Yang pasti dan sudah terbukti adalah orang-orang kaya lebih banyak memberi daripada orang yang tidak kaya.

Dalam kehidupan sehari-hari saya pun sering menemukan fenomena "Memberi adalah menerima lebih banyak". Orang-orang yang lebih banyak memberi ternyata memiliki lebih banyak harta daripada yang pelit. Selain lebih banyak harta, ternyata orang-orang yang suka memberi hidupnya lebih happy, lebih bahagia. Mungkin memberi bisa menimbulkan kebahagiaan.

Memeberi berarti percaya bahwa Tuhan Maha Kaya


Sebagai seorang yang beragama Islam, saya sudah tidak asing lagi dengan hal yang berkaitan dengan memberi. Dalam istilah islam kata memberi sangat identik dengan sedekah. Dalam Alquran dan Hadist disebutkan bahwa dengan bersedekah Allah akan membelasnya dengan lebih banyak.

Sebagai orang Islam yang harus percaya pada Alquran dan Hadist, sudah semestinya harus banyak bersedekah. Selain itu, sedekah juga mempunyai banyak manfaat. berikut ini adalah kumpulan hadist tentang sedekah.

"Kamu menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan itu adalah sedekah bagimu." (HR. Bukhari)

"Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah." (HR. At-Tirmidzi)

"Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api." (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)

"Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya." (HR. Bukhari no. 1421)

"Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak." (Qs. Al Hadid: 18)

"Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur." (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)

"sesungguhnya Allah menerima amalan sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah mengembangkan pahalanya untuk salah seorang dari kalian, sebagaimana kalian mengembangkan seekor anak kuda. Sampai-sampai sedekah yang hanya sebiji bisa berkembang hingga sebesar gunung Uhud." (HR. At Tirmidzi 662)

"Apabila anak cucu Adam itu mati, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara yaitu: Shodaqoh jariyah, anak yang sholeh yang memohonkan ampunan untuknya (Ibu dan bapaknya) dan ilmu yang berguna setelahnya."

"Sesungguhnya sedekahnya orang muslim itu dapat menambah umurnya, dapat mencegah kematian yang buruk (su’ul khotimah), Allah akan menghilangkan darinya sifat sombong, kefakiran dan sifat bangga pada diri sendiri." (HR. Thabrani)

Dari hadist di atas, ternyata memiliki banyak manfaat. Sebagai seorang muslim, bersedekah adalah kewajiban saya. Walau pun tidak memiliki harta sebanyak orang kaya, kita tetap bisa bersedekah, bahkan tersenyum juga adalah sedekah.

Untuk itu, saya pribadi berusaha untuk selalu menanamkan sifat sedekah dalam kehidupan sehari-hari. Karena saya percaya, semua kebaikan yang saya lakukan, tuhan akan membayarnya dengan kebaikan yang lebih banyak.

Semoga bermanfaat.
Read More