Pengertian Ilmu Gizi, Gangguan Gizi, Serta Proses Pencernaan Makanan - Yudi Hartono
Latest Update
Fetching data...

Jumat, 21 Juni 2019

Pengertian Ilmu Gizi, Gangguan Gizi, Serta Proses Pencernaan Makanan


Pengertian Ilmu Gizi


Ilmu gizi adalah Ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan optimal.

Untuk lebih memahami tentang ilmu gizi kita juga perlu mengetahui definisi dari "makanan" yaitu makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan atau unsur-unsur / ikatan kimia yang dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh, yang berguna bila dimasukkan dalam tubuh. Dari penjelasan di atas jelas bahwa obat bukan termasuk makanan, dan semua suplemen yang mengandung gizi dapat dikategorikan sebagai makanan.

Pengertian gizi secara klasik hanya berkaitan dengan kesehatan tubuh saja. Artinya, gizi adalah aspek yang berhubungan dengan fungsi dasar zat gizi tersebut yaitu menghasilkan energi, pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan, dan mengatur proses metabolisme dalam tubuh.

Saat ini definisi gizi tidak hanya sebatas fungsi dasar zat gizi dan kesehatan saja tetapi zat gizi sudah dihubungkan dengan kemampuan kerja, produktivitas, IQ, dan status ekonomi. Tujuan ilmu gizi sendiri adalah mencapai, memperbaiki, serta mempertahankan kesehatan tubuh melalui konsumsi
makanan.

Penyebab Gangguan Gizi


Bagaimana gangguan gizi dapat muncul? Ditinjau dari penyebabnya, gangguan gizi disebabkan oleh faktor primer dan faktor sekunder.

Faktor primer adalah semua masalah gizi yang disebabkan susunan makanan salah, baik dalam hal kuantitas maupun kualitasnya. Faktor primer terdiri dari: kurangnya penyediaan pangan, kurang baiknya distribusi pangan, kemiskinan, ketidaktahuan, dan kebiasaan makan salah. Jadi faktor primer merupakan faktor  yang menyebabkan tidak tersedianya makanan yang akan dimakan mulai dari hulu sampai hilir.

Faktor sekunder adalah semua faktor yang menyebabkan zat-zat gizi tidak sampai di sel-sel tubuh setelah makanan dikonsumsi. Faktor sekunder meliputi beberapa aspek sebagai berikut:

  • Anatomi, contohnya pasien yang kelainan kongenital rongga mulut, tumor daerah esofagus, dan kelumpuhan otot pengunyah pada stroke.
  • Absorbsi, misalnya pasien malabsorbsi, pasien yang mengalami infeksi usus halus (Thypus Abdominalis), dan pasien post operasi pencernaan.
  • Metabolisme/utilisasi, misalnya pada pasien Diabetes Melitus yang kekurangan insulin.
  • Ekskresi, misalnya pasien yang tidak mampu mengeluarkan sisa hasil metabolisme makanan.
  • Obat-obatan misalnya pasien yang mengkonsumsi obat yang berinteraksi dengan makanan sehingga zat gizi tertentu tidak bisa diserap.


Proses Pencernaan Makanan


Proses pencernaan makanan dilakukan oleh organ pencernaan, proses ini meliputi pencernaan secara mekanik yang dilakukan oleh otot pengunyah, gigi, lidah, gerakan peristaltik saluran cerna yang memecah makanan yang kita makan menjadi partikel yang lebih kecil.

Selain itu proses pencernaan makanan juga dibantu dengan pencernaan kimiawi yang dilakukan oleh enzim-enzim pencernaan yang memecah karbohidrat dalam makanan menjadi bentuk karbohidrat yang paling sederhana yaitu monosakarida, memecah protein menjadi asam amino dan memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.

Setelah makanan dicerna menjadi bentuk yang paling sederhana, maka partikel zat gizi yang terbentuk mengalami penyerapan atau absorbsi.

Absorbsi zat gizi dimulai di lambung sampai usus, absorbsi zat gizi pada proses pencernaan melalui cara sebagai berikut:

  1. Pasif yaitu zat gizi berpindah dari saluran cerna ke pembuluh darah karena adanya perbedaan tekanan atau konsentrasi.
  2. Aktif yaitu zat gizi diserap dengan menggunakan energi.
  3. Fasilitatif misalnya menggunakan protein.
  4. Fagositosis/pinositosis yaitu membran sel epitel menfagosite partikel zat gizi.

Kemudian zat gizi yang telah diabsorbsi didistribusikan ke sel-sel diseluruh tubuh dan
dimanfaatkan oleh tubuh.

Nah bagaimanakah bisa timbul masalah kurang gizi?. Proses
sampai timbulnya gejala klinis yang dirasakan oleh pasien merupakan proses yang panjang,
untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar dibawah ini :


Jadi, masalah gizi disebabkan oleh faktor primer dan faktor sekunder yang ada, baik secara tunggal atau pun keduanya menyebabkan deplesi jaringan.

Adanya deplesi zat gizi yang terus menerus dapat diketahui melalui indikator terjadinya perubahan biokimia . Cara mengetahui perubahan biokimia ini misalnya dengan pemeriksaan laboratorium (Hb, serum albumin,
serum ferritin).

Bila keadaan deplesi zat gizi terus berlanjut akan menyebabkan perubahan fungsional, dan terakhir akan terjadi perubahan anatomis.

Akibat kekurangan gizi bagi tubuh antara lain:

  • Tidak tersedianya sumber energi untuk produksi tenaga.
  • Terganggunya atau terhambatnya pertumbuhan pada anak dan remaja.
  • Menurunnya sistem pertahanan tubuh karena bahan baku sistem pertahanan adalah zat gizi yaitu protein dan air.
  • erganggunya struktur dan fungsi otak, serta.
  • Perubahan perilaku menjadi anti sosial.

Keadaan kurang gizi ini pada anak-anak disebut dengan penyakit Kurang Kalori Protein (KKP) atau Marasmus dan Kwashiorkor.

Itu adalah akibat yang terjadi kalau kurang gizi, bagaimana kalau kita kelebihan zat gizi?

Ternyata kelebihan gizi juga memiliki berdampak negatif yaitu obesitas yang meningkatkan risiko timbulnya penyakit degeneratif seperti diabetes, darah tinggi, penyakit jantung koroner, penyakit hati dan kantung empedu.

Selain penyakit akibat gizi kurang dan gizi lebih, penyakit yang berkaitan dengan gizi adalah penyakit metabolik bawaan, dan penyakit keracunan makanan.

Setelah memahami konsep dasar dalam ilmu gizi, sekarang kita akan membahas tentang
kebutuhan zat gizi.

Kebutuhan zat gizi manusia terdiri dari:

  1. Kebutuhan minimal zat gizi harian atau minimal daily requirement (MDR) yang terdiri dari MDR pada saat sehat disebut sebagai MDR preventif, yaitu kebutuhan zat gizi minimal yang dibutuhkan tubuh agar tidak jatuh sakit, dan MDR pada saat sakit yang disebut sebagai MDR terapeutik yaitu jumlah zat gizi minimal yang dibutuhkan tubuh untuk sembuh.
  2. Angka kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG) merupakan tingkat konsumsi zat-zat gizi esensial yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi hampir semua orang sehat.

Untuk menentukan AKG perlu diperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh pada AKG yaitu: tingkat kesehatan gizi masyarakat yang akan dicapai, tingkat ekonomi masyarakat, umur kelompok, jenis kelamin, aktivitas fisik , dan kondisi fisik khusus (misalnya hamil/menyusui).

Kebutuhan zat gizi pada AKG merupakan angka kebutuhan zat gizi rata-rata pada kelompok umur menurut jenis kelamin secara umum. Secara spesifik kebutuhan zat gizi setiap individu sangatlah bervariasi.

Sebagai pedoman bagi masyarakat dalam mencapai gizi seimbang telah ditetapkan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) yang merupakan pedoman dasar tentang gizi seimbang yang disusun sebagai penuntun perilaku konsumsi makanan di masyarakat secara baik dan benar.

Add your comment
EmoticonEmoticon